Pernah ga punya orang yang bener-bener lo kagumi, kagumi loh ya, ga ada embel-embel cinta atau ada kepentingan lainnya. Kalo ada pastinya elo akan mendewa-dewakan, membanding-bandingkan seolah-olah ga ada yang lebih baik dari si beliau itu.
Gw punya seorang yang sangat gw kagumi secara profesional, seorang yang wibawanya 1000%, pintar membawa diri dan... sangat adorable dari sisi pekerjaan. Keluarganya baik, agamanya baik, cara bersosialisinya baik. Semuanya baik, sampe gw ga bisa menemukan kekurangannya. Satu lagi yang terpenting buat gw adalah dia ga pernah pelit dalam hal ilmu, walaupun proses pembelajaran itu belum sukses, tapi beliau udah banyak banget mencoba cloning otak ke gw walau kadang gw yang bego-lemot-batu-sok tau.
Singkat kata, setelah hampir satu setengah tahun, akhirnya beliau harus jauh dari gw yang notabene sampe kapanpun ga bisa kehilangan sosok beliau dalam keseharian pekerjaan gw. Tanpa tau dan ga mau tau alesannya, akhirnya dia memutuskan untuk pergi.
Beberapa hari sebelum beliau resmi mengundurkan diri, beliau sempet bicara sangat serius yang gw pikir adalah soal kerjaan. Ternyata bukan. Sama sekali bukan. Dan sampe sekarang pembicaraan itu membekas dan ga akan pernah hilang. Sebuah pesan, amanat yang cantik sekali sebagai closing hubungan profesional kami.
Kira-kira, beginilah percakapan kami.
Dia: Rhea, i have to go.
Gw: (muka polos liat ke jam tangannya. Jam 5 sore) Hmmmm, ya udah, pulang aja, Pak. Nanti Rhea beresin yang masih pending ya.
Dia: (Salting karna gw ga nangkep arti 'I HAVE TO GO' yang sebenarnya) Oke, Rhea, saya mau share sesuatu sama kamu.
Gw: Ya? Apa, Pak?
Dia: (ambil kertas kosong) Oke, kita update pending project sampe hari Senin ya. blah-blah-blah *talking about deadline*. Satu lagi, saya kemarin baca artikel dan saya harus share sama kamu, penting sekali, saya minta Rhea simak baik2.
Gw: (Muka bego) Oke.
Dia: Rhea tau Pulau Sumatra?
Gw: Ya.
Dia: Pulau Sumatra itu punya 1 danau yang cantik sekali, namanya Danau Toba. Cantikk sekali. Sampe semua orang katanya belum ke Medan kalo belum mengunjungi Danau Toba. Danau Toba juga salah satu Danau terbesar di Dunia. (mulai menggambar Pulau Sumatra, dan Danau Toba)
Danau Toba itu luas sekali, tapi tenang dan cantik. Inget ya, Luas, besar, tapi cantik dan tenang sampe semua orang penasaran dan menyukai Danau Toba.
Rhea tau Krakatau, gunung yang katanya berapi dan paling berbahaya di Indonesia. (mulai menggambar gunung Krakatau) Gunung Krakatau adalah gunung yang aktif dan ditakutkan akan menghancurkan Indonesia kalo nanti dia meletus.
Tapi ga ada orang yang tau kalo ternyata Danau Toba adalah lahar sebuah gunung yang jauh lebih berbahaya. Beberapa abad lalu, gunung tersebut pernah meletus dan membuat pulau Indonesia terpecah. Kebayang ya bertapa berbahayanya gunung ini. Besar sekali, berkali lipat dari Gunung Krakatau.
Gunung Krakatau sama-sama kita tau, terlihat seperti gunung yang siap meletus kapan saja. Tapi tau ga kalo gunung Danau Toba jauh jauh jauh lebih kuat, berbahaya dan mempunyai isi perut yang dalam. Laharnya aja sebesar Danau, dan lebih luas dari dasar Gunung Krakatau, kebayang ya ngerinya Gunung ini kalo meletus.
Saya mau Rhea seperti Danau Toba, yang cantik, tenang tetapi punya banyak sekali kekuatan di dalam, tidak seperti Gunung Krakatau yang terlihat seperti gunung dan semua orang tau dan bisa mengukur kedalamannya.
Prinsip ini yang seumur hidup saya bawa untuk menghadapi client saya. Dan saya harap Rhea bisa inget dan bawa prinsip ini seumur hidup juga.
Begitu aja, silahkan bawa kertas ini, dan inget, jadilah sebagai Danau Toba.
Setelah itu gw keluar dari ruangannya, hampir 5 menit gw blank dan ga bisa mikir apa-apa. Danau Toba... Satu hal yang akan gw inget seumur hidup gw.
Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk seorang di sana yang selalu ada di belakang gw selama satu setengah tahun belakangan ini. Bukan cuma ilmu tapi pengalaman berharga bersama beliau yang akan terus gw inget sebagai pelajaran yang tidak akan gw dapatkan dari manapun.
Seorang mentor yang teramat sangat bijaksana, Julio Sanjaya.
Take care, bukan cuma Rhea yang akan kehilangan, tapi semua yang ada di sini, sadar atau tidak, kami akan selalu membutuhkan sebuah arah untuk kamu melintas. Dan sekarang, kami akan berusaha keras mencari kompas lain, yaitu diri kami sendiri. Sekali lagi terima kasih, bukan cuma tak tergantikan, tetapi juga tidak akan terlupakan.
U'll be missed.