Di sini aku, di sana harusnya kamu
Eh, tapi di sudut itu mengapa dia?
Aku tersenyum, bibir itu harusnya untuk aku juga
Loh, mengapa kau mengarah kepadanya?
Aku meminta, ternyata kamu tidak melupakannya
Duh, bagaimana lagi kamu menyangkalnya?
Aku termenung, kamu bersungut bingung
Ah, apakah itu kepolosan pura-puramu?
Aku mematuhi, dan kamu tetap saja menyebrangi
Em, menurutmu berapa harga toleransi?
Aku menuntunmu, hey, kamu berputar tak berarah
Wow, kamu panik mencari celah?
Sejenak kita pun berdiam,
Dalam keramaian yang berjalan,
Dalam kekosongan yang bohong,
Dalam kericauan yang memudar,
Dan buatku sudah kandas
Aku tak ingin banyak
Aku hanya ingin berhenti berpedar
Aku rindu kamu dalam harmonisasi bayangan
Aku ingin mengingatmu sebagai jejak waktu, yang melenceng bergegas pergi
Aku hanya minta, jangan tabrakan lagi dunia kita
Aku tak perlu walaupun hanya sederhana katamu
Aku tak ingin lihat gerakan fatamorganamu
Akupun tak ingin coba terjemahkan pernyataan ambigumu
Sudahlah, tinggalkan episode ini
Karena di dalam sini,
Cuma ada aku yang bertanya,
Dan kamu tetap tak berjawab.