Aku sering kali berpikir, silahkan Tuhan mengambil apapun di dunia ini, kecuali keluargaku.
Pagi tadi, aku harus mengakui kekalahan dan keras kepala-ku.
Cukup. Cukup aku melihat papa menderita bertahun-tahun melawan penyakitnya. Aku sudah tidak sanggup menahan rasa perih melihatnya menderita. Sudah cukup waktu yang kuberikan untuk diriku sendiri yang egois menahannya untuk tetap tinggal.
Hari ini, aku meminta Tuhan untuk 'mengambil' papa secepat mungkin. Hari ini aku meminta-Nya untuk melepaskan semua bebannya. Papa adalah laki-laki terbaik di duniaku, dia tidak pantas tersiksa selama ini.
Malam ini aku meminta Tuhan untuk bertemu dengan papa dan menyampaikan bahwa aku ikhlas. Aku mengalah untuk orang yang paling aku cintai di dunia ini. Orang yang rela mati kapan saja demi aku.
Sangat sangat sangat jelas diingatanku apa yang sudah dia korbankan untukku, dia bahkan tidak pernah mengeluh dan marah saat aku berbuat kesalahan. Seluruh tenaga dan uang yang dihasilkan hanya untuk keluarga. Aku juga masih sangat jelas genggamannya yang kuat mencengkram tanganku saat kita jalan-jalan. Ingat ga, pa, dulu cuma aku yang selalu gandeng papa kemana aja kita jalan? Aku yang selalu minta dibelikan apapun dan papa selalu menuruti? Ingat ga, pa, waktu itu papa menahan aku sampai jam 12 malam hanya karena aku mengambil 500 perak dari celengan? Dan tentunya papa ingat kebersamaan kita setiap malam, aku cerita semua yang terjadi di sekolah.
Mudah2an papa sudah lupa, beberapa bulan lalu saat papa masih bisa berjalan, aku sempat memarahi, papa karena susah diatur. Mudah2an ya. Kalaupun papa masih ingat, aku minta maaf ya, pa.
Aku juga minta maaf, aku belum bisa membalas apapun yang papa berikan untuk aku. Aku terlambat. Aku janji akan seperti papa yang jujur dan penuh tanggung jawab pada apapun. Aku akan jaga mama. Aku janji. Aku janji ga akan terlambat membahagiakan mama.
Pergilah, pa. Aku rela. Aku ikhlas. Titip salamku untuk Tuhan, sampaikan sejuta rasa terima kasihku karena Dia telah memberi aku ayah yang luar biasa seperti papa. Sampaikan pula sejuta rasa ampunku, aku belum pernah membahagiakanmu seperi papa selalu membahagiakanku. Dan, sampaikan juga sejuta rasa banggaku mempunyai ayah seperti papa.
Terima kasih atas 24 tahun yang indah yang papa sudah berikan. Keluarga cantik yang setiap hari selalu ada buatku. Terima kasih sudah menjadi pemimpin keluarga yang sangat aku cintai.
Pa, pasti nanti ada yang kurang. Tapi itu lebih baik ketimbang aku melihat papa tersiksa. Percaya sama aku, ga pernah sedetikpun aku akan lupa sama papa. Setiap apa yang aku dapat, itu karena kerja keras papa. Dan ga ada yang akan pernah gantiin papa.
Hari ini, aku siap, pa. Pergilah dengan damai. Tuhan akan mengangkat sakitmu selama ini, pa. Jangan egois lagi ya. :) Surga lebih membutuhkan orang yang baik seperti papa.
Sejuta terima kasihku untuk papa, laki-laki yang paling kubanggakan di hidupku dan orang yang paling membanggakan aku di hidupnya. Pelukanku akan selalu menemanimu.
Aku ikhlas.
No comments:
Post a Comment